Apa itu “al-’isyq” ?
Al-’isyq, biasanya kita kenal dengan perasaan jatuh cinta antara seorang laki-laki terhadap wanita. Hal ini dikarenakan, orang-orang yang terkena penyakit al-’isyq hatinya kosong dari rasa mahabbah (cinta) kepada Alloh, selalu berpaling dari-Nya dan dipenuhi kecintaan kepada selain-Nya. Hati yang penuh cinta kepada Alloh dan rindu bertemu dengan-Nya pasti akan kebal terhadap penyakit “al-’isyq”.
Bagaimana penyakit al-’isyq ini bisa berjangkit ? Hal ini dikarenakan anya dua sebab yang melandasinya :
1. mengganggap indah apa-apa yang dicintainya.
2. perasaan ingin memiliki apa yang dicintainya.
Makhluk diciptakan saling mencari yang sesuai dengannya
Ibnu Al Qayyim berkata “Ketetapan Alloh dengan hikmah-Nya menciptakan makhluk-Nya dalam kondisi saling mencari yang sesuai dengannya. Secara fitrah saling tertarik dengan jenisnya, dan sebaliknya akan menjauh dari yang berbeda dengannya”.
Allah berfirman dalam Surah Al A’raf:189
“Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya”
Allah Azza Wa Jalla telah menjadikan sebab perasaan tenteram dan senang seorang lelaki dan bentuknya. Maka jelaslah bahwa faktor cinta tidak bergantung dengan kecantikan rupa. Tidak pula karena adanya kesamaan dalam tujuan dan keinginan, ataupun kesamaan bentuk.
Dan juga tidak dipungkiri, bahwa hal-hal ini merupakan salah satu penyebab ketenangan dan timbulnya cinta.
Cinta dan jenis-jenisnya
Bahwa cinta memiliki berbagai macam jenis dan tingkatan
1. Mahabbatu fillah wa lillah, cinta karena Allah dan didalam agama Allah
yaitu, cinta yang mengharuskan mencintai apa-apa yang dicintai Allah, dilakukan berdasarkan cinta kepada Allah dan RosulNya.
2. Cinta yang karena adanya kesamaan dalam cara hidup, agama, madzhab, ideologi dan kesamaan dalam ha-hal lainnya.
3. Cinta yang motifnya karena ingin mendapatkan sesuatu dari yang dicintainya,baik karena kedudukan, harta, pengajaran dan bimbingan ataupun kebutuhan biologis.
Cinta yang didasari pada hal ini, yaitu al mahabbah al’ardiyah akan hilang bersama hilangnya apa yang ingin didapatkannya dari orang yang dicintainya.
4. Cinta karena adanya kesamaan dan kesesuaian antara yang menyintai dan yang dicintai. Mahabbah al isyq adalah termasuk golongan ini. Cinta jenis ini merupakan berpadunya ruh dan jiwa.
Mengapa cinta ini, ada yang bertepuk sebelah tangan, bagaimanapun ia adalah merupakan pertemuan ikatan batin dan ruh ?? Andai ini perpaduan antara jiwa dan ruh, maka tentulah cinta itu akan terjadi antara kedua belah pihak dan bukan sepihak saja ?
Terapi penyakit al-isyq
“Hai sekalian pemuda, barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka hendaklah dia menikah. Barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah berpuasa. Karena puasa dapat menahan dirinya dari ketergelinciran (kepada perbuatan zina)” diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud Ra dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam
Hadits ini memberikan dua solusi, yakni yang utama yakni menikah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Ibnu Abbas, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam bersabda “Aku tidak pernah melihat ada dua orang yang saling mengasihi selain melalui jalur pernikahan”
Jika terapi pertama tidak dapat dilakukan akibat tertutupnya peluang menuju orang yang dikasihinya karena ketentuan syar’i dan takdir, maka terapinya harus menyakinkan dirinya bahwa apa yang diimpikannya mustahil terjadi. Dan lebih baik melupakannya. Jiwa yang telah memutuskan harapan akan menjadi lebih tenang dan tidak lagi mengingatnya.
Bilamana ini masih tersimpan dalam hati maka, tetapkanlah bahwa ia harus ditinggalkan karena dua hal
Pertama, karena takut (kepada Allah). Yaitu dengan menumbuhkan perasaan bahwa ada hal yang lebih layak dicintai, lebih bermanfaat, lebih baik dan lebih kekal yakni ALLAH SWT. Janganlah kamu bilamana berakal mencintai sesuatu yang segera sirna dengan sesuatu yang lebih layak dicintai, lebih bermanfaat, lebih kekal dan lebih nikmat, tentu ia akan memilih yang lebih tinggi derajatnya. Jangan sampai engkau menggadaikan kenikmatan abadi yang tidak terlintas dalam pikiranmu dan menggantikannya dengan kenikmatan sesaat yang segera berbalik menjadi sumber penyakit.
Kedua, keyakinan bahwa resiko yang sangat menyakitkan akan ditemuinya jika gagal melupakan yang dikasihinya, yakni gagal mendapat yang dikasihinya dan bencana menyakitkan dan siksa yang pasti akan diterimanya. Maka ia akan berpikir bahwa sabar menahan diri itu lebih baik. Akal, agama, harga diri dan kemanusiaannya akan memerintahkannya untuk bersabar, demi mendapatkan kebahagiaan abadi.
Sementara itu ada beberapa bentuk terapi :
Ikhlas kepada Allah
Jika seseorang yang terkena penyakit al-‘isyq benar-benar ikhlas dan menghadapkan wajahnya kepada Allah dengan tulus, niscaya Allah akan menolongnya dengan cara yang tiada pernah terlintas di hatinya. Dia akan menyingkirkan segala penghalang menuju jalan taubat.
Berdo’a
Merendahkan diri kepada Allah, secara tulus menyerahkan diri kepada-Nya, ikhlas, dan memohon kepada-Nya dengan segala kerendahan agar disembuhkan dari penyakit.
Menahan pandangan
Ketika seorang hamba menahan pandangannya maka hati turut menahan syahwat dan keinginannya.
Banyak berpikir dan berdzikir
Hendaklah setiap orang senantiasa ingat bahwa seluruh perbuatannya akan dimintai pertanggungjawaban. Seharusnya ia berpikir bahwa perbincangan dengan kekasihnya akan ditanyakan nanti di hari kiamat. Hendaklah dia berpikir betapa malu dirinya kelak ketika Allah mencela perbuatannya.
Menjauh dari orang yang dicintainya
Sebab memisahkan diri dan menjauh akan mengusir bayangan orang yang dicintai dalam hatinya. Hendaklah ia bersabar menanggung perpisahan beberapa saat walaupun sulit pada awalnya. Seiring dengan waktu, seluruh masalah akan menjadi mudah.
Menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat
Sebab, mabuk cinta adalah karena kesibukan hati yang kosong. Hatinya akan dipenuhi bayang-bayang kekasihnya. Tetapi ketika ia sibuk dengan hal-hal lain maka cintanya akan memudar, rindunya akan hilang dan akhirnya ia dapat melupakannya.
Menikah
Sebab pernikahan itu mencukupi segalanya, penuh berkah dan menjadi solusi. Jika orang yang dicintainya adalah wanita yang mungkin dinikahinya maka hendaklah ia menikahinya. Jika sulit menikahinya hendaklah memohon kepada Allah untuk memudahkannya. Jika ia tak bisa menikahinya karena sebab-sebab tertentu, maka hendaklah ia bersabar dan memohon kepada Allah agar diberi jalan keluar.
Menengok orang sakit, mengiringi jenazah, menziarahi kubur, melihat orang mati, berpikir tentang kematian dan kehidupan setelahnya.
Senantiasa menghadiri majelis ilmu, duduk bersama orang-orang zuhud dan mendengar kisah-kisah orang shalih.
Memangkas habis ambisi dengan membuang rasa putus asa disertai dengan keinginan keras untuk dapat menundukkan hawa nafsu.
Selalu konsisten menjaga sholat dengan sempurna, menjaga kewajiban-kewajiban sholat, baik berupa kekhusyukan dan kesempurnaannya secara lahir dan bathin.
Menjaga kharisma agar tidak jatuh kepada kedudukan yang hina dina, tidak jatuh dalam perbuatan yang tercela dan segala bentuk yang dapat menghalangi keutamaan. Orang-orang yang memiliki harga diri tidak pernah mau terikat menjadi budak sesuatu. Lihat saja, betapa hawa nafsu menyebabkan orang-orang mulia menjadi hina.
Menjaga kemuliaan diri, kesucian dan menjaga kehormatannya
Hal ini akan membuat seseorang jauh dari perkara yang akan meruntuhkan harga dirinya ataupun yang akan menjatuhkan martabatnya.
Membayangkan cela yang terdapat pada diri orang yang dicintainya
Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Sesungguhnya manusia penuh dengan najis dan kotoran. Dan orang yang dimabuk cinta melihat kekasihnya dalam keadaan sempurna. Karena cinta, ia tidak dapat melihat aib kekasihnya. Sebab hakikat segala sesuatu dapat disingkap dengan timbangan yang adil. Sementara yang menjadi penguasa atas dirinya adalah hawa nafsu yang zhalim. Itu akan menutupi seluruh cela hingga akhirnya orang yang dilanda cinta melihat kekasihnya yang jelek menjadi jelita. “
Memikirkan akan ditinggal pergi orang yang dicintainya, baik ditinggal mati atau ditinggal pergi tanpa keinginannya atau ditinggal karena sudah bosan.
Memikirkan akibat perbuatannya
Orang yang berakal adalah orang yang dapat menimbang apakah cintanya itu akan melahirkan kenikmatan ataukah kesengsaraan.
Hendaknya orang yang ditimpa ujian seperti ini mengetahui bahwa ujian hidup merupakan sebab munculnya nilai keutamaan seseorang. Jika dia bersabar maka akan tampaklah keutamaannya, sempurnalah kemuliaannya dan derajatnya akan meningkat kepada level yang lebih tinggi.
Memikirkan betapa banyak hal-hal yang bermanfaat menjadi luput disebabkan menyibukkan diri dengan cinta seperti ini. Orang-orang yang mulia lebih mengutamakan santapan akalnya, walaupun tabi’atnya berusaha menggiringnya kepada syahwat jasmani.
Melihat kondisi para pemabuk cinta
Bagaimana derita yang mereka tanggung. Bagaimana hidup mereka yang dikucilkan oleh masyarakat. Betapa berantakan segala urusan dunia dan akhirat mereka. Bandingkanlah orang-orang yang menghabiskan hidup untuk cinta buta dengan orang-orang yang memiliki cita-cita yang tinggi dan luhur dan keinginan yang kuat.
Demikanlah di antaranya obat-obat yang dapat menangkal dan menyembuhkan penyakit mabuk asmara. Seperti yang telah disebutkan di atas, semua obat ini tidak akan manjur bila yang melakukannya tidak berusaha dengan sungguh-sungguh ingin sembuh dari penyakitnya. Kita bermohon kepada Allah agar menjauhkan kita dari jalan-jalan kehancuran dan membimbing kita kepada kebaikan dunia dan akhirat.
Wallahu a’lam